Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer

Cahayapendidikan.com – Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer

Setiap lapisan tanah memiliki struktur tanah yang berbeda, pada bagian atas merupakan tanah humus yang dapat digunakan untuk bercocok tanam.

Pada bagian tengah terdapat tanah dengan sruktur yang lebih keras.

Sedangkan pada lapisan ketiga tanah tersebut tersusun dari bebatuan keras.

Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa tanah di Bumi memiliki lapisan-lapisan tertentu dengan struktur tanah dan batuan yang berbeda. 

Dalam ilmu pengetahuan alam (IPA) tentang kebumian, tanah atau bebatuan yang ada di Bumi disebut Litosfer.

Litosfer berasal dari bahasa Yunani yakni lithos (batuan) dan Sphaira (lapisan). Jadi, litosfer merupakan lapisan batuan yang ada di Bumi.

Dalam pengertian luas, litosfer diartikan sebagai seluruh bagian padat Bumi, termasuk intinya.

Struktur padat Bumi terdiri atas:

1. kerak Bumi,

2. mantel, dan

3. inti Bumi.

Masing-masing struktur padat Bumi tersebut dibedakan lagi menjadi bagiannya masing-masing.

Kerak Bumi dibedakan menjadi kerak benua dan kerak samudra.

Adapun Kerak benua merupakan kerak Bumi yang berada di daratan.

Sedangkan Kerak samudra merupakan kerak Bumi yang berada di dalam laut.

Mantel Bumi terdiri atas mantel atas dan mantel bawah.

Inti Bumi dibedakan menjadi 2, yakni inti luar yang berupa cairan pekat dan inti dalam yang bersifat pekat hampir menyerupai padatan.

Berdasarkan struktur Bumi, ada dua teori mendasar yaitu teori tektonik lempeng serta teori gempa bumi, dan gunung berapi.

Pada kesempatan ini admin akan berikan ulasan terkait struktur bumi berdasarkan Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer.

Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer

Seorang ahli meteorologi asal Jerman bernama Alfred Wegener mengajukan sebuah teori yang dikenal dengan teori pergerakan benua (Continental driff).

Teori Continental Driiff

Dalam teorinya, Wegener menjelaskan bahwa pada zaman dahulu, semua benua di Bumi menyatu membentuk sebuah daratan yang sangat luas (Pangeae).

Sekitar 200 juta tahun lalu benua tersebut terpisah dan bergerak menjauh secara perlahan.

Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer

Selain fakta benua yang ada di Bumi seperti puzzle, penemuan fosil juga mendukung teori pergerakan benua.

Salah satu buktinya dengan adanya Mesosaurus penemuan fosil di Amerika Selatan dan di Afrika.

Mesosaurus merupakan jenis reptil yang hidup di darat dan di air tawar. Wegener beranggapan bahwa tidak mungkin berenang di samudra untuk sampai ke benua lain. Oleh karena itu,

Wagener beranggapan bahwa Mesosaurus hidup di benua tersebut pada saat benua masih menyatu.

Selain fosil Mesosaurus penemuan fosil lainnya juga mendukung teori pergerakan lempeng. Beberapa penemuan fosil tersebut, antara lain:

(a) Fosil Cynognathus yang ditemukan di Amerika Selatan dan Afrika,

(b) Fosil Lystrosaurus yang ditemukan di Afrika, India, dan Antartika,

(c) Fosil tumbuhan Glossopteris yang ditemukan di Amerika Selatan, Afrika, India, Antartika, dan Australia.

Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer

Jika benua pernah menyatu, maka bebatuan yang menyusun benua tersebut akan memiliki kesamaan.

Misalnya, struktur bebatuan pegunungan di Amerika Serikat memiliki kesamaan dengan batuan di Greenland dan Eropa Barat.

Selain itu, struktur batuan di Amerika Selatan dan Afrika juga memiliki kesamaan.
Kesamaan struktur batuan juga salah satu fakta pendukung bahwa benua pernah menyatu.

Akan tetapi, teori pergerakan benua yang diajukan Wagener tidak dapat menjelaskan bagaimana benua berpisah dan bergerak menjauh.

Oleh karena itu, teori pergerakan benuaWagener ditolak oleh para ahli pada saat itu.

Teori Seafloor Speading

Pada awal tahun 1960, seorang ilmuan dari Princeton University yang bernama Harry Hess mengajukan teori yang bernama Seafloor Speading atau pergerakan dasar laut.

Hess menjelaskan bahwa di bawah kerak Bumi tersusun atas material yang panas dan memiliki massa jenis yang rendah.

Akibatnya, material tersebut naik ke punggung kerak samudra. Kemudian material bergerak ke samping bersama dasar kerak samudra,

sehingga bagian dasar kerak samudra tersebut menjauh dari punggung kerak samudra dan membentuk sebuah patahan.

Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer

Karena dasar kerak samudra menjauh sehingga terbentuk patahan, maka magma akan naik ke atas dan mengisi patahan tersebut.

Magma yang telah sampai ke patahan akan mendingin dan membentuk kerak yang baru.

Teori Seafloor Speading ini mampu menjelaskan bagaimana proses terbentuknya lembah maupun gunung bawah laut.

Selain itu, berdasarkan hasil penelitian ternyata usia batuan dasar laut dengan kapal Glomar Challenger (1968) juga memperkuat teori ini.

Berdasarkan penelitian tersebut dapat diketahui bahwa usia batuan pada punggung kerak samudra lebih tua dari usia batuan pada dasar kerak.

Hal ini menunjukkan bahwa batuan di punggung kerak samudra baru terbentuk karena efek Seafloor Speading.

Teori tektonik lempeng

Sekitar tahun 1960, para ilmuwan mengembangkan sebuah teori baru berdasarkan teori Contenental Driff dan Seafloor Speading.

Teori ini disebut teori tektonik lempeng. Berdasarkan teori ini, kerak Bumi dan bagian atas dari mantel Bumi terbagi menjadi beberapa bagian.

Bagian ini disebut lempeng. Lempeng bersifat plastis dan dapat bergerak di lapisan ini.

Lempeng tersusun atas kerak dan bagian atas mantel Bumi.

Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer

Berdasarkan teori tektonik lempeng, bagian luar Bumi tersusun atas litosfer yang dingin dan kaku (lempeng) serta tersusun oleh astenosfer.

Astenosfer bersifat plastis yang berada di bawah lempeng. Akibatnya, lempeng seolah-olah
mengapung dan bergerak di atas astenosfer.

Ketika lempeng bergerak, akan terjadi interaksi antarlempeng.

Lempeng dapat bergerak saling menjauh dan memisah. Selain itu, lempeng juga bisa saling
mendekat hingga terjadi tubrukan antarlempeng.

Pergerakan sebuah lempeng akan mengakibatkan perubahan pada lempeng lainnya.

Berbagai lempeng yang ada di atas dapat bergerak secara terpisah dan juga bersamaan.

Apabila 2 lempeng bergerak saling menjauh, lempeng tersebut bersifat divergent.

Sebaliknya jika 2 lempeng bergerak saling mendekat lempeng tersebut bersifat konvergent.

Baca Juga:

1. Teori Gempa Bumi pada Lithosfer

2. Pengertian Jenis dan Karakteristik Lapisan Atmosfer

Demikianlah ulasan terkait Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *