Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer

Cahayapendidikan.com – Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer.

Naiknya magma ke permukaan menyebabkan erupsi. Erupsi terjadi pada gunung berapi.

Magma yang keluar dan mengalir di permukaan Bumi saat terjadi erupsi disebut lava. Gunung berapi memiliki lubang yang berbentuk melingkar di daerah puncaknya yang disebut kawah.

Saat erupsi terjadi, magma dan material lainnya dimuntahkan melalui kawah gunung berapi.

Ketika erupsi gunung berapi (gunung meletus) terjadi, lava dan beberapa material dimuntahkan hingga ribuan meter kubik (m3) ke udara.

Partikel-partikel dari material dan lava yang mendingin akan terlontar ke atas, kemudian berjatuhan dari langit. Fenomena ini yang disebut hujan debu vulkanik (tephra).

Beberapa gunung berapi terbentuk karena tabrakan dua lempeng. Proses tersebut akan menghasilkan serangkaian gunung berapi.

Jika terdapat dua lempeng yang bertabrakan, maka lempeng yang memiliki massa jenis yang lebih besar akan menekuk ke bawah lempeng yang massa jenisnya lebih rendah.

Baca Juga: Teori Tektonik Lempeng pada Litosfer

Ketika sebuah lempeng menekuk dibawa lempeng lainnya, maka batuan pada lempeng yang menekuk akan melebur menjadi magma.

Magma tersebut akan naik menuju permukaan karena perbedaan massa jenis, seperti
pada Gambar berikut ini.

Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer
Aktivitas lempeng dapat membentuk serangkaian gunung api.

Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer

Salah satu rangkaian gunung api yang dikenal adalah cincin api pasifik Cincin api pasifik (ring of fire) merupakan pusat gempa dan rangkaian gunung berapi di sekitar samudra Pasifik. 

Hampir 90% pusat gempa berada di sepanjang cincin api Pasifik.

Rangkaian gunung berapi diilustrasikan dengan titik merah pada seperti pada gambar berikut ini.

Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer

Berdasarkan gambar tersebut, ternyata Indonesia terletak di dalam cincin api pasifik. Akibatnya, di Indonesia banyak terbentuk gunung api.

Hal tersebut dikarenakan letak Indonesia berada di jalur pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia.

Gunung api tersebut membentuk sebuah barisan yang membentang dari bagian barat hingga timur Indonesia.

Rangkaian gunung berapi membentang dari pulau Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi hingga kepulauan Maluku, seperti terlihat pada gambar beriktu ini.

Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer

 

 

 

 

 

 

 

 

Indonesia memiliki sekitar 150 gunung berapi, baik yang aktif maupun yang dorman (tidur).

Gunung api aktif merupakan gunung api yang memiliki aktivitas vulkanik yang tinggi dan meletus dalam jangka waktu yang pendek.

Salah satu contohnya adalah gunung Merapi. Sejak tahun 1000 M, gunung Merapi telah meletus sebanyak 80 kali.

Gunung api dorman adalah gunung api yang tidak terdapat aktivitas vulkaniknya dalam waktu yang lama.

Akan tetapi, gunung tersebut dapat meletus sewaktu-waktu. Salah satu gunung api dorman (tidur) di Indonesia adalah gunung Sinabung yang hingga September 2015 erupsinya belum selesai.

Gunung Sinabung terakhir kali meletus pada tahun 1600, kemudian tiba-tiba aktif lagi pada tahun 2010 dan meletus kembali pada tahun 2013.

Erupsi merupakan keluarnya magma dan material lainnya dari dalam Bumi oleh letusan gunung berapi.

Teori Gempa Bumi pada LitosferBaca Juga: 

Namun, istilah erupsi di masyarakat lebih dikenal dengan gunung meletus.

Letusan gunung api akan memuntahkan material dengan kekuatan yang dahsyat dan lava pijar maupun lahar dingin yang keluar akan menyapu segala sesuatu yang  dilewatinya.

Akibatnya, letusan gunung berapi dapat mengakibatkan kerusakan yang sangat besar.

Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer

 

 

 

 

 

 

 

Erupsi disebabkan oleh tekanan gas yang kuat dari dalam Bumi yang terus menerus mendorong magma (Gambar a).

Dengan demikian, magma akan terus naik menuju ke permukaan. Dalam  perjalanannya, magma yang memiliki suhu hingga 1200oC akan melelehkan batuan di sekitarnya.

Akibatnya, terjadilah penumpukan magma (Gambar b). Tekanan udara yang berasal dari dalam Bumi lambat laun semakin besar, sehingga tersimpan energi yang besar untuk mendorong magma keluar.

Jika litosfer yang berada di atas magma tidak mampu menahan tekanan dari dalam Bumi, maka terjadilah erupsi (Gambar c).

Magma dan material lainnya dimuntahkan melalui kawah gunung api. Energi yang tersimpan tersebut dilepaskan dalam bentuk ledakan dan semburan yang kuat saat erupsi.

Material yang dikeluarkan saat letusan gunung berapi meliputi material padat, cair, dan gas.

Letusan gunung berapi akan mengeluarkan material padatan berupa batuan dan  mineral dari dalam Bumi.

Hasil lainnya dari letusan gunung api adalah lava dan lahar. Lahar merupakan lava yang telah bercampur dengan batuan, air, dan material lainnya.

Letusan gunung berapi juga menghasilkan gas beracun, yakni Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur dioksida (SO2), dan Nitrogen dioksida (NO2).

Selain material tersebut, letusan gunung berapi juga menghasilkan awan panas (aliran piroklastik) atau yang dikenal oleh masyarakat dengan nama “wedhus gembel”.

Awan panas merupakan hasil letusan seperti awan yang mengalir bergulung. Awan panas terdiri atas batuan pijar, gas panas, serta material lainnya. Dan Awan panas memiliki suhu yang mencapai 700oC.

Baca Juga: Pengertian Jenis dan Karakteristik Lapisan Atmosfir

Awan panas ini mengalir menuruni lereng gunung api dengan kecepatan mencapai 200 km/jam. 

Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer

 

 

 

 

 

 

 

Letusan gunung berapi memiliki daya penghancur yang besar. Material berbahaya seperti lahar dan abu vulkanik dapat merusak segala sesuatu yang dilewatinya. Lava pijar yang keluar saat erupsi juga dapat menyebabkan hutan di sekitar gunung terbakar.

Hal ini akan mengancam ekosistem alami di hutan tersebut. Selain itu, suhu tinggi awan panas yang mengalir menuruni bukit dapat merusak ekosistem serta membunuh makhluk hidup.

Gas beracun dan hujan debu akibat gunung meletus juga dapat mencemari udara dan mengganggu pernapasan.

Kamu perlu mengetahui bahwa letusan gunung berapi sangat berbahaya bagi kita. Hampir tidak mungkin menghindari kerusakan saat terjadi gunung meletus.

Untuk mempermudah membaca aktivitas gunung api dan proses evakuasi, dibuatlah tingkatan isyarat atau status gunung berapi.

Badan geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) membedakan status gunung api menjadi empat (4) tingkatan.

Level terendah adalah status NORMAL dengan warna isyarat hijau.

Tingkatan level paling tinggi adalah status AWAS dengan isyarat warna merah.

Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer

Secara lengkap, deskripsi status gunung api dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

StatusMaknaTindakan
AWAS
  • Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan kritis yang menimbulkan bencana
  • Letusan pembukaan dimulai dengan debu dan  asap
  • Dan Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam
  • Wilayah yang terancambahaya direkomendasikan untuk dikosongkan
  • Koordinasi dilakukan secara harian 
  • Piket penuh
SIAGA
  • Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana
  • Peningkatan intansif kegiatan seismik
  • Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana
  • Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat
  • terjadi dalam waktu 2 minggu
  • Sosialisasi di wilayah terancam
  • Penyiapan secara darurat
  • Koordinasi harian
  • Piket penuh
WASPADA
  • Ada aktivitas apapun bentuknya
  • Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal
  • Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya
  • Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik, dan hidrotermal
  • Penyuluhan/sosialisasi
  • Penilaian bahaya
  • Pengecekan sarana
  • Pelaksanaan tiket terbatas
NORMAL
  • Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma
  • Level aktivitas dasar
  • Pengamatan rutin
  • Survey dan penyelidikan

Dekian ulasan materi Teori Gunung Api pada Lapisan Litosfer, semoga bermanfaat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.