Pengolahan Pembobotan Hasil Seleksi CPNS 2018

Cahayapendidikan.com – Pengolahan Pembobotan Hasil Seleksi CPNS 2018

Pada saat kita mengikuti seleksi di bidang apapun, pasti menginginkan kejelasan prosedur, jenis, dan pembobotan dalam penilaian. Tak terkecuali dalam mengikuti seleksi CPNS.

Dengan adanya kejelasan proses rekrutmen membuat peserta seleksi merasa nyaman dalam mengikuti setiap tahapan seleksi.

System CAT telah digunakan dalam rekrutmen CPNS pada tahun 2017 yang lalu, nampaknya pada tahun 2018 masih tetap digunakan.

Melalui CAT peserta dapat mengetahui hasil nilai yang diperolehnya setelah mengerjakan tes. Dengan demikian peserta seleksi CPNS dapat mengetahui apakah nilainya memenuhi ambang batas (passing grade) atau tidak.

Baca: Nilai Ambang Batas Seleksi CPNS Tahun 2018

Nah setelah mengetahui nilai ambang batas untuk masing-masing Seleksi Kompetensi Dasar SKD, peserta juga harus mengetahui pembobotannya.

Dalam SKD terdapat 3 materi soal yaitu Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Intelegensia Umum (TIU), dan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK).

Jumlah soalnya 100, meliputi soal TKP sebanyak 35 butir soal, TIU 30 butir soal, dan soal TWK 35 butir soal.

Apabila materi soal TIU dan TWK dijawab dengan benar nilainya 5 dan apabila salah atau tidak menjawab nilainya 0 (nol).

Dengan demikian, nilai maksimal adalah 500 terdiri atas nilai maksimal untuk TKP: 175, TIU: 150, dan TWK: 175.

Pengolahan Pembobotan Hasil Seleksi CPNS 2018

Bobot nilai Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) adalah 40% dan 60%.

Apabila instansi melaksanakan Seleksi Kompetensi Bidang dengan CAT, hasilnya merupakan nilai utama. Dengan bobot serendah-rendahnya 50% dari bobot nilai Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

Jika instansi pusat menambah Seleksi Kompetensi Bidang dalam bentuk wawancara dan/atau tes praktik kerja. Maka bobot yang diberikan paling tinggi masing-masing 25% dari total nilai/hasil Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

Seandainya melaksanakan lebih dari 2 jenis Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Misalnya wawancara, tes praktik kerja, tes potensi akademik, tes bahasa asing, tes fisik/kesamaptaan, psikotes, tes kesehatan jiwa. Maka bobot masing-masing tes dibagi secara proporsional.

Dalam hal instansi pusat tidak melaksanakan Seleksi Kompetensi Bidang dengan CAT:

Maka dapat melaksanakan wawancara dan tes praktik kerja dengan bobot maksimal 40%. Dan wajib menambah minimal 1 jenis tes lainnya dengan bobot sekurang-kurangnya 20% dari total nilai/hasil SKB.

Juga dapat melaksanakan tes jenis lainnya dengan bobot maksimal 40% untuk jenis wawancara atau tes praktik kerja. Dan wajib menambah minimal 1 jenis tes lain dengan bobot sekurang-kurangnya 60% atau dibagi secara proporsional.

Dapat melaksanakan SKB selain wawancara atau praktik kerja, sekurang-kurangnya 2 jenis tes dengan bobot dibagi secara proporsional.

Sedangkan instansi daerah hanya diperkenankan menambah 1 jenis tes selain dengan CAT dan diberikan bobot paling tinggi 40%. Dengan demikian bobot nilai SKB dengan CAT menjadi 60% dari total nilai/hasil Seleksi Kompetensi Bidang;

Adapun putra/putri daerah setempat yang mendaftar formasi umum diberikan tambahan nilai pada 10 dari total nilai Seleksi Kompetensi Bidang.

Lain halnya bagi pendaftar formasi umum jabatan Guru yang memiliki sertifikasi pendidik yang tidak diperlukan mengikuti Seleksi Kompetensi Bidang. Sertifikasi pendidik ditetapkan sebagai pengganti SKB dengan nilai sebesar nilai maksimal Seleksi Kompetensi Bidang. Dengan syarat memenuhi nilai passing grade Seleksi Kompetensi Dasar dalam batas jumlah formasi.

Demikianlah informasi Pengolahan Pembobotan Hasil Seleksi CPNS 2018, Semoga bermanfaat.

Sumber: Permen PAN-RB Nomor 36 Tahun 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *